Sebanyak 74 warga negara Indonesia (WNI) masih berada di Kota Mokha, Yaman, di tengah situasi keamanan yang memburuk setelah kelompok Houthi menguasai kota pelabuhan strategis tersebut. Sebagian besar WNI yang berada di wilayah itu merupakan pelajar.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI terus memantau kondisi para WNI tersebut dan berkoordinasi dengan perwakilan Indonesia di kawasan Timur Tengah. Pemerintah juga meminta seluruh WNI yang berada di Yaman untuk mengikuti perkembangan serta arahan keselamatan yang disampaikan otoritas Indonesia.
Juru Bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela sebelumnya menyampaikan bahwa terdapat 77 WNI yang berada di Mokha. Namun, tiga orang berhasil keluar dari kota tersebut sehingga jumlah WNI yang masih berada di lokasi menjadi 74 orang. Kemlu memastikan seluruh WNI yang tersisa merupakan pelajar.
Pemantauan dilakukan melalui KBRI Muscat yang memiliki wilayah kerja untuk Yaman, dengan koordinasi bersama KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah. Kemlu juga menyediakan saluran komunikasi darurat bagi WNI yang membutuhkan bantuan dalam situasi mendesak.
Situasi menjadi perhatian karena Mokha merupakan kota pelabuhan yang berada di pesisir Laut Merah. Kota tersebut terletak tidak jauh dari Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Penguasaan Mokha oleh Houthi pada 10 September 2026 menjadi salah satu perkembangan besar dalam konflik Yaman. Pergerakan tersebut memperluas wilayah yang berada di bawah kendali kelompok tersebut dan kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai kemungkinan meluasnya konflik bersenjata di negara itu.
Situasi di Yaman sendiri telah berlangsung selama bertahun-tahun. Konflik antara Houthi dan kelompok yang berseberangan dengan mereka sebelumnya mengalami penurunan intensitas setelah gencatan senjata pada 2022, meski penyelesaian politik secara menyeluruh belum tercapai.
Kondisi terbaru menunjukkan ketegangan kembali meningkat. Associated Press melaporkan bahwa setelah menguasai Mokha dan sejumlah pulau di sekitar Selat Bab el-Mandeb, Houthi juga menghadapi pertempuran di sejumlah wilayah lain, termasuk kawasan Marib yang kaya sumber daya energi. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas Yaman dan kawasan sekitarnya.
Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh masyarakat Yaman. Eskalasi konflik juga berpotensi mengganggu aktivitas perdagangan dan pelayaran internasional karena kawasan Laut Merah merupakan salah satu jalur penting bagi lalu lintas kapal dunia.
Bagi Indonesia, persoalan yang paling mendesak adalah memastikan keselamatan puluhan pelajar yang masih berada di Mokha. Pemerintah belum menyampaikan adanya proses evakuasi besar-besaran terhadap 74 WNI tersebut, sementara kondisi keamanan dan akses keluar-masuk wilayah menjadi faktor yang harus diperhitungkan.
Pada 23 September 2026, perhatian terhadap keselamatan 74 WNI kembali mencuat di Indonesia. Komisi I DPR RI mendorong pemerintah menyiapkan skenario perlindungan dan evakuasi apabila kondisi keamanan di Yaman semakin memburuk.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa perkembangan situasi di lapangan terus dipantau. Pemerintah harus mempertimbangkan berbagai faktor sebelum menentukan langkah berikutnya, termasuk kondisi jalur darat, ketersediaan transportasi, keamanan rute, serta koordinasi dengan otoritas setempat dan negara-negara di sekitar Yaman.
Di tengah kondisi tersebut, Kemlu meminta WNI yang berada di Yaman untuk tidak mengambil tindakan yang dapat meningkatkan risiko keselamatan. Warga Indonesia juga diminta tetap berkomunikasi dengan perwakilan RI dan segera menghubungi saluran darurat apabila menghadapi situasi yang mengancam.
Keberadaan 74 pelajar Indonesia di Mokha menjadi perhatian serius karena mereka berada di tengah wilayah yang mengalami perubahan situasi keamanan secara cepat. Pemerintah Indonesia kini terus memantau kondisi mereka sembari menyiapkan langkah perlindungan sesuai perkembangan di lapangan.
Untuk saat ini, informasi resmi Kemlu menyebut kondisi para WNI masih dipantau melalui jaringan perwakilan Indonesia di kawasan. Pemerintah juga belum menyatakan bahwa seluruh 74 WNI telah berhasil dievakuasi dari Mokha.
Situasi tersebut membuat perkembangan di Yaman menjadi perhatian bukan hanya bagi masyarakat internasional, tetapi juga keluarga para pelajar Indonesia yang menunggu kepastian mengenai keselamatan anggota keluarga mereka.
Selama kondisi keamanan di Mokha belum sepenuhnya stabil, keselamatan 74 WNI menjadi prioritas pemerintah Indonesia. Perkembangan situasi di lapangan dan akses keluar dari kota tersebut akan menjadi faktor penting dalam menentukan langkah perlindungan berikutnya.






