Roblox kini menjadi salah satu platform permainan daring yang paling digemari anak-anak di seluruh dunia. Dengan konsep dunia virtual yang memungkinkan pengguna bukan hanya bermain, tetapi juga membuat gim mereka sendiri, Roblox menghadirkan pengalaman unik yang memadukan hiburan dengan kreativitas. Di balik kepopulerannya, banyak ahli menilai platform ini memiliki dua sisi yang kontras: di satu sisi membuka ruang pembelajaran dan ekspresi diri, namun di sisi lain menyimpan risiko serius bagi tumbuh kembang anak.
Sejumlah peneliti menyebut bahwa Roblox dapat menjadi media belajar yang efektif. Anak-anak yang terlibat dalam komunitas pengembang game di dalamnya berkesempatan mengenal logika pemrograman, desain visual, hingga keterampilan berwirausaha. Sebuah studi dari Joan Ganz Cooney Center menegaskan bahwa platform seperti Roblox bisa meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, berpikir kreatif, dan kolaborasi. Bahkan, sebagian orang tua melihat anak mereka menjadi lebih percaya diri karena mampu menciptakan karya digital yang diapresiasi orang lain.
Namun, berbagai penelitian juga memperlihatkan sisi gelap Roblox yang patut diwaspadai. Investigasi yang dilakukan media internasional menemukan bahwa sebagian konten di Roblox ternyata tidak ramah anak. Ada game yang menampilkan adegan asusila, bahkan simulasi yang tidak pantas bagi usia dini. Lebih jauh lagi, ancaman predator digital menjadi isu yang sangat serius. Laporan hukum di Amerika Serikat mencatat kasus anak-anak yang dirayu untuk pindah berkomunikasi di platform lain seperti Discord, lalu dieksploitasi secara seksual. Kasus tragis di mana seorang anak berusia 11 tahun menjadi korban pelecehan setelah berkenalan lewat Roblox menjadi alarm keras tentang betapa rentannya dunia maya terhadap tindak kejahatan.
Dari sisi ekonomi digital, Roblox juga mendapat sorotan tajam. Sistem mata uang virtual Robux yang digunakan dalam platform sering kali membuat anak bingung dan tanpa sadar mendorong mereka melakukan pembelian dalam jumlah besar. Penelitian dari University of Sydney menggambarkan mekanisme ini sebagai bentuk “perjudian anak-anak”, karena mendorong perilaku impulsif dan belum sejalan dengan tingkat kedewasaan anak dalam mengelola keuangan. Hal ini memicu kritik luas agar sistem pembayaran di Roblox lebih transparan dan aman bagi pengguna muda.
Menyikapi berbagai kontroversi tersebut, Roblox sebenarnya telah memperkenalkan sejumlah fitur keamanan. Kontrol orang tua memungkinkan pengawasan lebih ketat, termasuk pembatasan obrolan dan filter konten untuk anak di bawah 13 tahun. Mereka juga menerapkan verifikasi usia dengan identitas resmi serta menambahkan kebijakan baru terkait game yang mengandung interaksi sosial. Meski demikian, banyak pakar menilai langkah tersebut belum sepenuhnya efektif. Konten berisiko masih bisa ditembus, sementara praktik eksploitasi ekonomi anak belum benar-benar teratasi.
Fenomena ini menimbulkan dilema bagi orang tua. Di satu sisi, Roblox bisa memberi manfaat edukatif, melatih imajinasi, dan memperkenalkan anak pada dunia digital yang kreatif. Namun di sisi lain, tanpa pendampingan, platform ini bisa berubah menjadi pintu masuk berbagai bahaya: mulai dari konten dewasa, predator seksual, kecanduan gim, hingga eksploitasi finansial.
Psikolog anak merekomendasikan agar orang tua tidak serta-merta melarang, tetapi lebih aktif mendampingi. Anak perlu diberi pemahaman tentang batasan dunia maya, diajarkan cara melapor jika menemukan hal yang mencurigakan, dan diberikan kontrol waktu bermain agar tidak berlebihan. Edukasi literasi digital sejak dini menjadi kunci penting agar anak dapat menikmati sisi positif teknologi tanpa terjerumus ke dalam risiko yang mengintai.
Pada akhirnya, Roblox adalah cermin dari dunia digital yang semakin kompleks. Ia menawarkan peluang besar sekaligus ancaman nyata. Yang menentukan arah penggunaan platform ini bukan hanya sistem yang dibangun perusahaan, tetapi juga sejauh mana keluarga, sekolah, dan masyarakat mampu membimbing anak-anak agar tetap aman dan sehat dalam berinteraksi di dunia maya.