UE Larang AstraZeneca Ekspor Vaksin, Tuntut 120 Juta Dosis

92

BANDARLAMPUNGPOS.COM-Uni Eropa melarang perusahaan farmasi AstraZeneca mengekspor vaksin virus corona ke Inggris dan negara Eropa lainnya sampai mereka memenuhi janji mengirim 120 juta dosis vaksin ke blok tersebut.

AstraZeneca sepakat mengirimkan 30 juta dosis vaksin kepada Uni Eropa pada kuartal pertama 2021. Jumlah itu berkurang secara drastis dari rencana semula sebanyak 120 juta dosis.

Hingga kini, AstraZeneca belum memenuhi janji tersebut.

Peringatan keras itu diutarakan Ketua Uni Eropa, Ursula von der Leyen, setelah mengadakan rapat dengan 27 pemimpin negara blok tersebut pada awal pekan ini.

Dalam rapat itu, mayoritas pemimpin negara Eropa menekankan bahwa embargo menjadi “tekanan” terakhir yang dipilih jika AstraZeneca tetap tidak memprioritaskan memasok vaksin bagi kebutuhan kawasan terlebih dahulu.

“Saya pikir jelas bahwa pertama-tama perusahaan (AstraZeneca) harus mengejar ketertinggalan, harus menghormati kontrak yang dimilikinya dengan negara anggota Eropa, sebelum dapat terlibat lagi dalam mengekspor vaksin,” kata von der Leyen dalam jumpa pers pada Kamis (25/3).

Pernyataan itu diutarakan von der Leyen setelah Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, mengklaim bahwa seluruh pabrik perusahaan asal Cambridge itu menjadi rantai pasokan vaksin Inggris-yang bukan lagi anggota Uni Eropa.

Sementara itu, AstraZeneca memiliki sejumlah pabrik di luar Inggris, termasuk di Belanda.

Salah satu negara yang mendukung larangan Uni Eropa adalah Prancis. Presiden Emmanuel Macron menganggap larangan ekspor dari Uni Eropa itu menandai “diakhirinya kenaifan.”

“Saya mendukung gagasan bahwa kita harus memblokir semua kemungkinan ekspor selama laboratorium tidak menghormati komitmen mereka kepada warga Eropa,” papar Macron seperti dikutip AFP.

Sementara itu, Belanda dan Belgia yang menjadi pusat produksi vaksin di Uni Eropa, gelisah membicarakan embargo ekspor. Kedua negara itu khawatir larangan tersebut bisa mengganggu rantai pasokan vaksin global dan rantai produksi vaksin perusahaan lain.

Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, mengatakan rantai pasokan vaksin sangat rumit. Sebagai contoh, ia mengatakan salah satu pabrik di Belgia yang membuat vaksin Pfizer-BioNTech mengandalkan bahan baku dari Inggris.

“Rantai pasokan sangat rumit, mereka sangat bergantung jadi bukan hal yang baik jika instrumen baru ini diterapkan secara otomatis,” kata Rutte.

Namun, Rutte juga memperingatkan Johnson bahwa Belanda tak segan memberlakukan keputusan Uni Eropa untuk menghentikan ekspor vaksin. (CNNindonesia.com)